Archive for Mei, 2011


Bagaimana mengamati Gerhana Matahari atau melihat Matahari dengan aman? Untuk itu dibutuhkan filter yang aman untuk mata yang dapat memblok cahaya Matahari sehingga tidak merusak mata.

Tulisan ini akan mengajak kita semua untuk coba membuat kacamata yang aman untuk dapat melihat Matahari.

Bahan :

  1. Pola kacamata Matahari
  2. Filter Matahari.
  3. Gunting
  4. Lem
pola kacamata matahari

Cara Pembuatan :

  1. Potong gambar.1 sepanjang garis penuh terluar dan potong lubang untuk bagian mata. Lipat sesuai garis putus?putus.
  2. Gunting 2 persegi panjang filter matahari berukuran 5 cm x 3,5 cm.
  3. Lem filter matahari di lubang bagian mata. Sebagai saran, jangan sampai filter tergores. Setelah selesai mengelem, uji filter terhadap lampu. Bila terlihat goresan atau titik cahaya melewatinya, filter tersebut rusak dan tidak dapat digunakan.
  4. Gunting kedua gambar.2 sepanjang garis penuh terluar.
  5. Luruskan garis abu?abu pada gambar.2 dengan garis pada gambar.1 dan lem gambar. 2 ke gambar.1 sesuai nomor. Ingat untuk menyesuaikan ukuran sebelum mengelem.
  6. Lipat pada garis abu?abu dan lem sisi depan dan belakang bersama?sama.

Alternatif Filter Matahari
Jika anda tidak memiliki filter Matahari, alternatif lain yang bisa digunakan adalah menggunakan film yang sudah dibakar / diekspos / dipapar di cahaya Matahari. Silahkan juga baca Cara Menikmati Matahari dengan Aman sebagai referensi.

Bahan :

  • Film hitam putih KODAK T MAX asa 100. (harus film hitam putih dari seri yang disebutkan)

Cara Pembuatan :

  1. Ekspos / bakar / papar film hitam putih dibawah Matahari. (tarik / keluarkan film dari gulungan film sampai habis)
  2. Cuci film tersebut di tempat cuci cetak foto.

Peringatan : Jika anda membuat filter dari negatif film, pastikan setelah film dibakar dan di cuci di tempat cuci cetak foto, hasilnya benar-benar gelap dan tidak ada sinar yang masuk serta tidak ada goresan. Jika ada goresan maka negatif film tidak dapat digunakan lagi.

Bagaimana menggunakan kacamata ini ?
Ingatlah instruksi keamanan dasar mengamati Matahari: JANGAN PERNAH melihat langsung ke Matahari, karena dapat mengakibatkan luka serius pada mata anda, bahkan dapat menimbulkan kebutaan. Setiap kali sebelum pemakaian, pastikan anda mengecek goresan atau bintik pada filter. Untuk melakukan hal ini, tempatkan kacamata di depan mata anda dan amati lampu. Jika anda menemukan terdapat cahaya yang menembus kacamata, maka kacamata tersebut rusak dan tidak dapat digunakan.

Pastikan kacamata anda selalu menutupi seluruh bagian mata anda sebelum anda melihat Matahari. Anda juga harus selalu melepaskan kacamata hanya ketika setelah anda tidak lagi menatap Matahari.

Hal penting lainnya adalah jangan terlalu lama menatap Matahari menggunakan kacamata ini demi kenyamanan mata anda.  Selamat mengamat Matahari, bila beruntung, anda dapat menemukan bintik Matahari.

Clear sky!

sumber: http://langitselatan.com/2010/01/14/membuat-kacamata-matahari/

Iklan

Banyak orang berpikir untuk dapat menjadi seorang astronom haruslah memiliki “ilmunya”, bahkan harus memiliki sebuah teleskop sebagai “mata” kedua yang digunakan untuk “berpatroli” langit. Tetapi untuk bisa mendapatkan teleskop di Indonesia masih cukup sulit. Kalau pun ada, harganya yang melambung tinggi dapat membuat kita berpikir 100x untuk membelinya…..

Nah, alternatif lainnya, bagaimana jika kita mencoba MEMBUAT-nya?……..

Dalam tulisan ini kita akan membahas tentang pembuatan teleskop refraktor. Untuk bisa membuat sebuah teleskop refraktor, bisa dikatakan gampang–gampang susah karena tidak mudah bagi kita untuk mendapatkan lensa dengan kualitas yang baik dan bagus, serta focus yang panjang. Tapi semua itu bukanlah masalah yang membuat kita mundur dan berhenti mencoba.

Untuk itu kita bisa menggunakan lensa LUP untuk membuat teleskop sederhana buatan sendiri. Tetapi alangkah baiknya lensa yang akan digunakan memiliki panjang focus maksimal 30cm. Karena di Indonesia lensa dengan panjang fokus > 30 cm masih sangat sulit untuk didapatkan.

Untuk lebih jelasnya berikut daftar nama bahan – bahan dan peralatan yang dibutuhkan :

  1. Lensa objektif LUP (kaca pembesar)/lensa cembung praktikum (biasa dijual di toko alat laboratorium)
  2. Pipa PVC dan perlup (sambungan pipa)
  3. Perkakas
  4. Lensa okuler (bisa menggunakan lensa binokuler atau lensa mikroskop) / bisa juga dengan membeli lensa di toko alat laboratorium dengan diameter 2,5 cm.

Sebelum kita mulai membuat, kita sediakan dahulu bahan bahan serta alat yang akan digunakan seperti yang ada diatas.

Langkah Pembuatan :

    1. Tentukan panjang badan teleskop dahulu. Dengan rumus fisika yang sudah kita ketahui yaitu : fob + fok = L
    2. Potong pipa PVC yang panjangnya sudah diketahui
    3. Letakkan lensa objektif kedalam sambungan pipa, lalu sambungkan sambungan pipa yang sudah berisi lensa tadi diujung paling depan pipa PVC yang udah diukur. Ingat lensa objektif selalu terletak didepan lensa okuler.

Foto01
Foto02

    1. Pasangkan perlup diujung paling belakang pipa

Foto03

    1. Letakkan lensa okuler diperlupnya

Foto04

Nah…..gampangkan membuatnya? Dari semua bahan diatas, yang lumayan sulit dicari adalah lensa okuler. Tetapi kita dapat mengambilnya dari lensa binocular, atau mikroskop (asal jangan “nyolong” punya sekolah ajah hehehehehe….). Tapi untuk lensa okuler bisa juga didapatkan di toko alat laboratorium dengan ukuran diameter 2,5 cm. Kisaran total untuk harga lensa objektif dan okuler jika dibeli di toko alat laboratorium bisa mencapai ± Rp. 75.000,-  s.d Rp. 100.00,-.

leadtele
Foto06

_____
Modul pembuatan teleskop ini dibuat oleh Iqbal Malik dan Haikal Hakim. Keduanya aktif terlibat dalam Pembuatan Teleskop Amatir (Amateur Telescope Making) dan pembuatan roket air.

Sumber: http://langitselatan.com/2009/12/08/mari-membuat-teleskop-sederhana/

Dalam semua ilmu eksak sebuah ukuran adalah hal yang sangat penting untuk membandingkan suatu hal dengan hal lainnya. Begitu pula dalam ilmu astronomi, untuk mengukur sudut antar objek kita gunakan sebuah satuan yang disebut derajat. terkadang ada orang yang menyebut besar sudut ini sebagai jarak antara objek yang satu dengan lainnya. Jarak yang dimaksud bukan lah jarak panjang antar objek melainkan sebuah sudut yang dibetuk antara objek yang satu dengan objek yang lain dengan titik sudut adalah mata.

 Sudut yang dibentuk antar objekSudut yang dibentuk antar objek

Lantas bagaimana kita bisa menetukan besar sudut yang dibentuk antar objek langit jika kita tidak ada alat sama sekali? Tanpa menggunakan alat sebenarnya Tuhan sudah memberikan sebuah alat yang praktis dan selalu dibawa kemana-mana. Alat itu adalah tangan dan jari kita. Untuk menentukan besar sudut yang dibentuk antar objek kita dapat memperkirakan dengan menggunakan jari dan kombinasi nya seperti pada gambar tetapan sudut berikut.

Tetapan besar sudut menggunakan jari

Sesudah kita tahu ketetapan-ketetapan dari jari dan kombinasi nya kini saat nya kita mempraktikkan. Caranya silahkan rentangkan tangan anda sampai lurus. Ada baiknya gunakan tangan kiri biar ndak bingung ngliat gambarnya. Nah kemudian gunakan satu mata (tutup mata kanan dan gunakan mata kiri) perkirakan berapa panjang antar objek itu dapat dijangkau dengan menggunakan jari dan kombinasi nya. Apakah satu genggaman tangan, satu kelingking atau satu genggaman tangan + jempol? Sesudah panjang antar objek dapat dijangkau dengan jari dan kombinasi nya maka lihat pada gambar tetapan sudut maka itulah besar sudut yang dibentuk antar objek. Jika ternyata 1 genggaman tangan dan kombinasi jari belum dapat mencapai objek, boleh kita menambahkan menggunakan 1 tangan lagi dan untuk besar sudut tetap sama seperti pada aturan.

Contoh Besar sudut yang dibentuk antar objek sebesar 10 derajat

Bagaimana sudah jelas bukan cara menetukan besar sudut atau “Jarak” antar objek langit? Kini anda sudah tidak boleh bingung dengan istilah kekiri dari sirius sekian derajat dan lain sebagainya. Semoga bermanfaat yach baik untuk diri saya, anda dan orang lain. See you and happy skygazing. HG

Tim JAC saat mengukur ketinggian antara bulan dengan HorizonSumber: http://www.kafeastronomi.com/astronomy-with-hand.html

Sebuah kilatan cahaya terang berwarna putih kekuning–kuningan melesat cepat di atas langit selatan pantai Parangkusumo, Bantul (DIY) pada Sabtu dinihari 23 April 2011 pukul 00:50 WIB dan berhasil diabadikan oleh tim observasi Jogja Astro Club (JAC). Kilatan cahaya ini merupakan meteor cemerlang (fireball), yakni jenis meteor yang memiliki kecerlangan setara atau melebihi terangnya Venus (magnitudo visual = –4). Ini adalah jenis meteor yang langka, sebab rata–rata meteor hanya memiliki magnitudo visual +2 atau 250 kali lebih redup ketimbang fireball. Untuk selanjutnya kilatan cahaya terang tersebut dinamakan fireball Parangkusumo 2011.

Meteor merupakan fenomena ekstraterestrial yang wajar bagi Bumi. Per tahunnya Bumi dibombardir 20–79 juta kg (atau 55–216 ton/hari) batuan dari angkasa baik yang berupa remah–remah komet ataupun pecahan asteroid. Jika massa sebesar itu dikumpukan di satu tempat maka akan terbentuk sebuah bukit. Untunglah mayoritas dari meteor tersebut terpanaskan hingga habis menguap di dalam lingkungan atmosfer Bumi sehingga tidak menimbulkan bahaya bagi planet ini. Sebaliknya, peradaban manusia justru mengenal meteor sebagai benda langit pembawa keberuntungan atau pertanda nasib baik, entah secara personal maupun komunal. Perkecualian hanya di Gunung Kidul (DIY) tatkala meteor sering ditafsirkan sebagai pulung gantung yang memberi alamat buruk, sebab kerap nongol ketika sebuah peristiwa gantung diri terjadi.

Meski meteor dipersepsikan sangat mendalam pada peradaban manusia Indonesia, sebaliknya sangat jarang adanya laporan kenampakan meteor/fireball yang dilengkapi dengan citra fotografis. Untuk 2010–2011 ini, laporan kenampakan meteor hanya ada dari Tenggarong dan Lhokseumawe. Sementara laporan jatuhnya meteor datang dari Duren Sawit (Jakarta), Ngada (NTB) dan Cirebon (Jabar) meski dua yang terakhir tersebut ternyata tidak benar (bukan peristiwa meteor jatuh). Karena itu observasi fireball Parangkusumo 2011 merupakan satu momen penting bagi dunia astronomi Indonesia.

Fireball Parangkusumo 2011 muncul tatkala hujan meteor periodik (shower) Lyrids 2011 sedang mencapai puncaknya. Dengan kondisi Bulan pada saat itu baru saja meninggalkan purnama dan memiliki fase 73 % dengan magnitudo visual –12,4 maka langit sangat diwarnai oleh cahaya Bulan sehingga bintang–bintang redup tak terlihat, pun demikian dengan meteor pada umumnya. Namun bintang–bintang terang seperti Alpha Centauri (Rigil Kentaurus), salah satu bintang tetangga terdekat ke Bumi (yang berjarak 4,4 tahun cahaya) tetap terlihat. Maka logis jika hanya fireball yang bisa terlihat dalam situasi tersebut.

International Meteor Organization (IMO) menyebut hujan meteor Lyrids disebabkan oleh remah–remah komet Thatcher yang terlepas dari permukaan sang komet dan terserak di sepanjang orbitnya tatkala komet mendekati perihelion dalam perjalanannya mengelilingi Matahari lewat orbitnya yang sangat lonjong dengan periode 415 tahun. Gangguan gravitasi Bumi menyebabkan remah–remah komet tersebutberubah orbitnya secara perlahan–lahan untuk kemudian tertarik masuk ke atmosfer Bumi sehingga berpijar sebagai meteor dengan kecepatan inisial rata–rata 49 km/detik. Hujan meteor Lyrids pertama kali teramati pada 16 Maret 687 SM oleh astronom–astronom Cina Kuno. IMO menyebut rata–rata jumlah meteor Lyrids per jam pada saat puncaknya adalah 10–15 meteor, dengan perkecualian pada 1922, 1945 dan 982 yang mencapai 100–an meteor/jam.

Citra fotografis hasil observasi di Parangkusumo mengindikasikan fireball Parangkusumo 2011 muncul dari dekat bintang gamma Centauri di rasi Centaurus, atau dari azimuth sekitar 200 derajat dan altitude sekitar 35 derajat. Fireball kemudian melintas cepat ke arah barat daya atau melintasi sisi barat rasi Gubung Penceng/Salib Selatan (Crux) sebelum kemudian lenyap. Ekstrapolasi lintasan fireball menuju azimuth yang berlawanan menunjukkan lintasan fireball tepat segaris dengan posisi sumber hujan meteor periodik Lyrids yang saat itu berada di langit timur laut (pada azimuth 41 derajat dengan altitude 31 derajat). Dengan demikian fireball Parangkusumo mungkin bagian dari meteor Lyrids, yang memiliki lintasan demikian panjang sehingga menyeberangi langit Parangkusumo dari timur laut menuju barat daya. Ukuran fireball mengindikasikan magnitudo visualnya tidak jauh dari angka –4 dan jelas tidak mungkin mencapai angka –8 karena munculnya fireball ini tidak diiringi dengan suara dentuman/gemeretak yang khas.

Menggunakan spreadsheet dari Marco Langboek (Perhimpunan Meteor Belanda) maka diketahui pada posisi awal munculnya fireball Parangkusumo 2011, ia tak mungkin memiliki kecepatan inisial 49 km/detik, sebab jika kecepatan inisialnya melebihi 42,7 km/detik maka fireball tersebut akan memiliki orbit hiperbola, sesuatu yang tak mungkin untuk meteor Lyrids. Namun M. Simek (observatorium Ondrejov, Cekoslovakia) pada 1963 memperlihatkan meteor Lyrids memiliki rentang kecepatan 43–49 km/detik, dimana batas bawahnya tidak berbeda jauh dengan angka 42,7 km/detik hasil simulasi. Maka dengan kecepatan inisial 42,7 km/detik, magnitudo visual –4 dan altitude 35 derajat, maka aplikasi persamaan Jenniskens (1968) memperlihatkan fireball Parangkusumo 2011 memiliki massa sekitar 0,25 kilogram dengan energi 0,2 GigaJoule (setara 54 kg bahan peledak TNT) dan estimasi diameternya 8–11 cm (bila berbentuk bulat) atau setara ukuran bola tenis. Ukuran ini jauh lebih kecil dibanding diameter batas pada altitude 35 derajat yang sebesar 3–8,9 meter sehingga bisa dipastikan fireball Parangkusumo 2011 habis teruapkan sepenuhnya di atmosfer tanpa sisa. Agar bisa menyisakan diri dan jatuh ke permukaan Bumi sebagai meteorit, fireball Parangkusumo 2011 haruslah memiliki kecerlangan –14 atau 3,3 kali lipat lebih terang dibanding Bulan purnama, sesuatu yang tak mungkin untuk meteor–meteor yang berasal dari remah–remah komet.

Jejak meteor cemerlang (fireball) Parangkusumo 2011, dengan latar belakang rasi bintang Gububg Penceng/Salib Selatan (Crux) dan Centaurus yang terkenal dengan bintang alfa Centauri-nya (bintang terdekat ke Bumi setelah Matahari). Garis biru menunjukkan orientasi Crux untuk menentukan titik selatan.Sumber: http://www.kafeastronomi.com/meteor-cemerlang-di-langit-malam.html

For serious lunar, planetary, globular cluster, and binary star observing – as well as for surprisingly good views of the brighter Messier, NGC, and IC catalog objects – many amateur astronomers prefer the crisp, high-contrast, diffraction-free images of a good refractor.

Under average seeing conditions, a useful rule of thumb in astronomy is that a good 3″ to 4″ refractor will usually outperform an average 6″ to 8″ reflector or Schmidt-Cassegrain for seeing details on the Moon and planets, splitting binary stars, and resolving globular clusters. The situation becomes a little more complicated when comparing refractors to Maksutov-Cassegrains or Maksutov-Newtonians, but (with a few high-priced exceptions) a good refractor will usually equal or outperform a Mak-Cass or Mak-Newt of equal or slightly larger aperture

Why? Unlike reflectors and catadioptrics (Schmidt-Cassegrains, Maksutov-Cassegrains, etc.), refractors do not have a secondary mirror obstruction or multiple-reflection optical path to introduce light-scattering diffraction and internal reflections that brighten the sky background, reduce contrast, and smear images.

Refractors also have the highest light transmission – the percentage of the light gathered by the scope that actually reaches your eye. Refractors can transmit 90% or more of the light they collect, compared with the 77% to 80% transmission of reflectors and 64% to 75% of catadioptrics. (The reflector and catadioptric percentages only concern mirror reflectivity. They do not take into account the light blocked by a reflector or catadioptric’s diagonal or secondary mirror, which can reach a hefty 15% to 20% additional light loss in some scopes.)

Unlike reflectors and catadioptrics, which lose 1% to 1.5% of their reflectivity per mirror surface per year as their aluminum coatings gradually oxidize, the light transmission of a low maintenance refractor rarely deteriorates significantly with age. Century-old refractors are still used, and highly prized, by discerning amateurs, and the world’s largest refractor – the Yerkes Observatory’s massive 40″ – has been in constant professional use since 1897.

The result of a refractor’s lower diffraction and higher light transmission? Given favorable seeing conditions, a modestly-sized refractor can show you subtle lunar and planetary features with a wider and more easily observed contrast range, and with more sharply etched detail, than is possible with the light-scattering optics of many larger reflectors and catadioptrics. This is especially true on nights of less-than-perfect seeing, when the details visible in a larger scope are often blurred by turbulence in our atmosphere. A smaller refractor looks through less of our unstable atmosphere and its images are consequently less affected by this turbulence. A good 80mm refractor, for example, can reveal more lunar detail than you can sketch in a lifetime of observing.

Diffraction spikes on a reflector’s star images, caused by its diagonal mirror’s spider vanes, are absent in an unobstructed refractor. With no diffraction spikes to hide faint binary star components or smear globular clusters, refractors can resolve close-spaced stars more precisely than the typical reflector.

Since the Moon and planets are all brightly lit by the Sun, a large light-gathering capacity is not as important as high magnification within the solar system. The relatively small aperture of a refractor is therefore often an advantage for this kind of observing, as is the high magnification capability of its long focal length, as there is less glare from brightly lit planetary surfaces to wash out faint detail.

For purely visual lunar, planetary, binary and star cluster observing, an altazimuth refractor with slow motion controls may be perfectly adequate. If a family shares the telescope, however, an equatorial mount with a motor drive will keep objects centered in the field of view so all can share the same view. Close-up lunar and planetary photography requires such a mount and motor drive. Due to the limited light gathering of the smaller refractors, long exposure deep space nebula and galaxy photographs are rarely attempted with this type of telescope.

The drawbacks of a refractor? Except for very expensive apochromatic designs, all refractors suffer from chromatic aberration (or “spurious color”). This is an optical defect that produces a faint, and normally unobjectionable, pale violet halo around bright stars, the limb of the Moon, and the planets. Chromatic aberration becomes more visible as the aperture increases and the focal ratio decreases, although modern optical systems minimize the problem in two-element achromatic refractors – and virtually eliminate it in three to four lens apochromatic systems.

While they are light in weight and economical in smaller sizes, refractors become bulkier and considerably more expensive than reflectors or catadioptric scopes as apertures hit 4″ (102mm) and above. A premium 4″ apochromatic refractor typically costs and weighs four to eight times as much as a 4.5″ reflector or 3.5″ Maksutov-Cassegrain.

But these drawbacks aside, and if sheer light grasp is not essential – for hunting very faint galaxies, for example, where a larger reflector would have the light-gathering edge – the clarity, contrast, and sheer image quality of a good refractor is well worth your consideration.

REFRACTOR REPORT CARDS
(used in excellent seeing conditions and with no light pollution; adapted from Astronomy Magazine):

E = excellent; VG = very good; G = good; F = fair; P = poor.

Small aperture (2″ to 3″) “toy store/bargain” refractors:
Price range: $100-$200
Portability: E
Ease of setup: E
Ease of use: F
Performance on the Moon: F
Performance on comets: P
Performance on double stars: P
Performance on galaxies and nebulas: P
Performance on planets: P

Small aperture (3″ to 4″) achromatic refractors:
Price range: $200-$800
Portability: E
Ease of setup: G
Ease of use: G
Performance on the Moon: E
Performance on comets: F
Performance on double stars: VG
Performance on galaxies and nebulas: F
Performance on planets: VG

Medium aperture (4″ to 5″) apochromatic refractors:
Price range: $700-$10,000
Portability: VG
Ease of setup: E
Ease of use: VG
Performance on the Moon: E
Performance on comets: VG
Performance on double stars: VG
Performance on galaxies and nebulas: G
Performance on planets: VG

Large aperture (5″ to 8″) achromatic refractors:
Price range: $800-$3200
Portability: F to VG
Ease of setup: G+
Ease of use: VG
Performance on the Moon: E
Performance on comets: VG
Performance on double stars: E
Performance on galaxies and nebulas: G
Performance on planets: E

Large aperture (6″ to 8″) apochromatic refractors:
Price range: $5000-$27,000 and up
Portability: F
Ease of setup: F
Ease of use: VG
Performance on the Moon: E
Performance on comets: VG
Performance on double stars: E
Performance on galaxies and nebulas: G
Performance on planets: E

Sumber: http://www.astronomics.com/main/category.asp/catalog_name/Astronomics/category_name/Why%20buy%20a%20refractor?/Page/1

Siapa bilang Astronomy itu mahal???,bener juga sih, teleskopnya harganya mahal, “itu buatan pabrik”. Tahukah kalian betapa sangat Luas jagad raya kita ini???, ya, kita hanya sebagian kecil dari bagian dari jagad raya ini. Saya Danang mahasiswa jurusan Olahraga, ingin berbagi ilmu dengan kalian semua para pembaca setia. Kecintaan saya dengan ilmu astronomi membuat saya ingin mempunyai teleskop sendiri, namun karena keterbatasan Dana untuk beli teleskop buatan pabrik, saya putuskan untuk mencoba membuatnya sendiri. “Ya”,kita tahu harga teleskop buatan pabrik tidaklah murah, untuk spesifikasi yang bagus harganya jutaan, bahkan ada yang melebihi harga mobil baru. Hal tersebut yang kemudian membuat saya untuk memutuskan mencoba untuk membuat teleskop sendiri, “Apa bisa???”. Belajar dari teman-teman astronomy di dalam maupun luar negeri melalui jejaring sosial dan blog, banyak ilmu yang saya dapatkan tentang rumus-rumus perbesaran teleskop,cara kerjanya dan banyak sekali hal yang saya pelajari tentang teleskop. Terinspirasi dari teleskop buatan pak Mutoha yang sekaligus ketua JAC ( Jogja Astro Club ) yang ditulisnya di Blog beliau, saya mencoba membuatnya dengan sedikit modifikasi dan kreatifitas. Tipe teleskop yang saya buat berjenis Refraktor. Postingan terdahulu sudah dijelaskan tentang jenis dan macam teleskop dan kita tahu bahwa ada banyak tipe teleskop, yaitu Refraktor,Reflektor (Newtonian), dan Cassegrain. Berikut teleskop pertama buatan saya:

Untuk bahan-bahan yang kita butuhkan adalah sebagai berikut

  • lensa bekas fotokopi / lup / lensa cembung (biasanya memiliki fokus 25-60 cm)
  • lensa obyektif mikroskop m=10x sd 20x ( saya memakai perbesaran 10x)
  • lensa okuler mikroskop m=5x atau 12.5″ (saya gunakan untuk findernya)
  • pipa pralon 4″ ( saya mengunakan 2,5” )
  • sambungan 4″-4″ = 2x dan 4″-2″=1x ( saya menggunakan 2,5” x 4 buah )
  • Tutup pralon untuk ukuran pralon 2,5” 2 buah (1 untuk dibuat focuser, 1 untuk tutup tabung    telescope).
  • teleskop finder ( bisa digunakan binokuler yang kecil/diambil satu saja)
  • penyangga (tripod) alt-azimuth
  • lem pralon

Tambahan

–          Gear dan ban tamia bekas, yang saya dapatkan dari bekas maianan adik saya.

Data bahan diatas saya dapatkan dari blog pak Mutoha, silahkan klik link berikut; http://mutoha.blogspot.com/2007/05/membuat-teleskop-sendiri.html

Dari bahan yang sudah saya dapatkan, saya mencoba untuk ikut membuat dengan sedikit modifikasi di lensanya, saya menggunakan lensa sebanyak 3 buah seperti pada teropong bumi (binocular). Barang yang saya pakai adalah barang bekas, kecuali lensa objektif microskop 10x dan eyepiece microskop 12,5x dan juga pipa pralon. Teleskop saya terdiri dari 3 buah lensa, objektif berdiameter 7cm dari lensa fotocopy, objektif microscope 10x, serta okuler microskop 12,5x.

Langkah pertama adalah mencari titik focus  lensa fotocopy (biasanya 25-60 cm), focus teleskop saya 25 cm. Setelah ketemu titik focus barulah kita membuat tempat untuk lensanya. Untuk tempat lensa saya pergunakan sambungan pralon ukuran 2,5 dim, disini saya menggunakan sambungan sebanyak 4 sambungan ( 2 sambungan untuk tempat lensa, dan 2 lagi untuk lens shade). Jangan lupa tentukan dahulu panjang pipa pralon agar sama dengan panjang focus lensa.

Langkah kedua, membuat system focuser dengan menggunakan tutup pralon yang dilubangi, lalu dimasukan shok 2,5 in kecil dan lem dengan lem pralon. Selanjutnya dengan gear dan ban tamia bekas (bisa juga dengan barang bekas lain) untuk system penggerak agar bisa bergerak keluar dan masuk untuk mencari fokus . Dibuat sedemikian rupa menyerupai system focuser pada teleskop refraktor buatan pabrik (yang saya buat single focuser).

Langkah ketiga, membuat eyepiece dari okuler monokuler dan membuat finder dengan monocular . pertama kita lepas lensa ob, lalu lepas juga lensa ok untuk dibuat eyepiece, untuk lensa pembalik kita simpan saja. Untuk membuat eyepiece, saya menggunakan lensa ob microskop perbesaran 10 x dan ok monocular. Keduanya saya tempatkan pada tabung kecil dengan jarak 10 cm karena ob microskop saya buat focus di 10 cm. Selanjutnya membuat finder, Cara membuat finder ini tidaklah rumit. Untuk ob finder saya gunakan Lensa ob monocular yang saya letakkan sedemikian rupa pada sambungan 2,5” kecil, lalu untuk ok findernya saya menggunakan lensa ok microskop 12,5x.

Langkah selanjutnya tinggal membuat dudukan finder pada tabung optic dan dudukan tripod untuk tabung optic. Sebenarnya teleskop ini namanya bukan teleskop, karena bayangan yang dihasilkan tidak terbalik, kecuali jika lensa pembalik pada teleskop disertakan pada pemasangan pada eyepiece teleskopnya. Ini seperti sebuah binocular yang besar dengan lensa microskop didalamnya. Tidak tahu namanya apa, saya menyebutnya my first telescope, dan yang jelas saya bengga dengan hasil karya saya.

Saya lumayan puas karena kawah bulan terlihat cukup bagus, jupiter bergaris dengan 4 satelitnya dan saturnus dengan cincinnya. untuk deep sky object saya berhasil melihat nebula orion, tapi sayang cuman kayak debu putih seperti kapas. Sekarang saya sedang dalam tahap pembuatan telescope tipe Newtonian ( reflector).Berikut foto bulan dengan menggunakan kamera HP 2 mp;

Sumber: http://www.kafeastronomi.com/membuat-teleskop-refraktor.html